Ini
tentang perkenalan pertama yang ku alami. Aku sibuk membolak-balik pesan
seorang teman tentang pengumuman sekolah, bagi siswa/siswi yang sudah
dinyatakan lulus SMP bisa mengambil
Surat Keterangan Lulus dan Buku Agenda. Buku Agenda?? Aku terdiam
sejenak, fikiranku melayang, Buku Agenda, yang isinya data diri, pas foto, dan
contact person. Masih saja aku membolak balik isi pesan itu, berharap ada
balasan, karna aku tidak bisa mengambilnya besok. Tiba-tiba telfonnya berbunyi,
isi pesannya begini “ kamu bisa ambil surat dan bukunya ketika kamu melakukan
pendaftaran ulang untuk tingkat SMA” ,, ohh syukurlah, aku tidak perlu
repot-repot untuk mengambil nya besok, fikirku.
Setelah
beberapa hari setelah pengumuman telfonku berbunyi menandakan ada pesan masuk, tak ada nama, siapa??, ahh baca
saja dulu: “ hai” begitu singkatnya sapaan pertama. “maaf Ini siapa ya?”
tanyaku. Dia menjelaskan dirinya, tapi aku masih belum paham, karna aku tak
pernah mendengar nama itu. Kami pun berkenalan, jujur saja aku orang yang tidak
ramah pada perkenalan pertama apalagi hanya sekedar pesan singkat, menurutku
ini tak perlu diambil pusing, hanya saja darimana dia bisa menghubungiku??
“Buku Agenda” jawabnya singkat, wajar saja aku tak tau dia, buku saja tak
punya. Dia terus mengirimku pesan, seakan ingin tau tentang diriku yang apalah
ini, dilihat dari segi bicaranya dia orang yang pandai merangkai kata, dan aku
mulai tertarik untuk mengenalnya juga, karna dia berbeda dengan
perkenalan-perkenalan lainnya. Dia tidak muluk-muluk, cukup dengan kata
singkat, dan yang paling penting tidak ada unsur rayuan. Karna sikapnya yang begitu, aku mulai
menceritakan hal ini pada teman karibku, dan ternyata dia kenal siapa orang
yang aku maksud, dunia ini sempit ya kawan, dia menceritakan satu hal unik
tentangnya, akupun tersenyum.
Hari
itu aku sibuk dengan kegiatan rumah yang masih sama dengan hari-hari
sebelumnya, aku duduk sebentar untuk menenangkan diri, akupun teringat cerita
temanku itu, aku ambil telfon dan melihat pesan masuk darinya, kenapa tidak
langsung aku telfon saja, fikirku. “hai” dengan gugupnya kata-kata itu terucap,
“iya” katanya. Dalam pembicaraan pertama aku gugup tapi dia berhasil mencairkan
suasana, dan ternyata dia baru pulang dari mengantar ibunya berbelanja, ada hal
positif yang aku lihat darinya, bayangkan saja seorang anak laki-laki suka
melakukan hal itu, bahkan itu sudah kewajiban menurutnya. Setelah pembicaraan
selesai aku tersenyum lega,” Dia baik pada Ibunya”. Bisa dibilang itu kesan pertamaku.
#First Time I know about you
Anisa Asfarina